Sawit Jadi Jalan Baru untuk Batik

Seorang perajin membatik menggunakan canting. Inovasi BioPAS membuka peluang bahan baku batik yang lebih lokal dan terbarukan. Foto: Jauhar Musthofal Qulub/ Pexels.

BOGOR, mulamula.id Batik selama ini sering dibicarakan dari sisi motif, warna, dan nilai budayanya. Padahal, di balik selembar kain batik, ada satu bahan penting yang jarang masuk percakapan publik, yakni malam batik.

Bahan inilah yang membantu perajin membentuk motif sebelum kain masuk ke proses pewarnaan. Masalahnya, sebagian komponen malam batik masih bergantung pada parafin. Bahan ini berasal dari minyak bumi dan pasokannya masih banyak ditopang impor.

Ketergantungan itu membuat industri batik tidak sepenuhnya berdiri di atas bahan baku lokal. Padahal, batik adalah salah satu identitas budaya paling kuat yang dimiliki Indonesia.

Di titik inilah inovasi berbasis sawit mulai masuk. Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN memperkenalkan Bio Paraffin Substitute atau BioPAS, bahan pengganti parafin yang dikembangkan dari minyak sawit domestik.

BioPAS dirancang untuk menggantikan parafin berbasis minyak bumi dalam pembuatan malam batik. Inovasi ini membuka jalan baru bagi batik agar lebih mandiri, lebih lokal, dan lebih ramah lingkungan.

Sawit Masuk Rantai Batik

BioPAS mempertemukan dua aset besar Indonesia. Sawit sebagai komoditas ekonomi nasional. Batik sebagai warisan budaya yang dikenal dunia.

Selama ini, sekitar 80 persen komposisi malam batik tersusun dari resin alam dan parafin. Parafin berfungsi membantu lapisan lilin menempel pada kain, menahan warna, dan membentuk garis motif.

Namun, karena parafin merupakan produk turunan minyak bumi, pasokannya tidak sepenuhnya dikendalikan di dalam negeri. Kondisi ini membuat industri batik ikut tersambung dengan rantai pasok impor.

Baca juga: Dari Abu Sawit ke Energi Masa Depan

Peneliti Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Agus Triputranto, bersama timnya mengembangkan BioPAS melalui modifikasi struktur trigliserida minyak sawit domestik.

Inovasi ini telah memperoleh paten granted sejak 2024. Artinya, secara teknologi, BioPAS sudah melewati tahap penting untuk dimanfaatkan lebih luas oleh industri.

“BioPAS dikembangkan sebagai substitusi parafin berbasis minyak bumi sehingga industri batik memiliki alternatif bahan baku yang berasal dari sumber daya nasional yang terbarukan,” kata Agus dalam ajang BRIN Goes to Society: Nature, Science, and Future Experience di AEON Mall Sentul City, Bogor, 1–7 Juni 2026.

Tidak Hanya Ganti Bahan

BioPAS bukan sekadar mengganti satu bahan dengan bahan lain. Inovasi ini juga harus menjawab kebutuhan teknis para perajin.

Dalam proses membatik, malam harus mudah digunakan. Bahan ini harus mampu menembus kain, membentuk garis motif yang tajam atau ngawat, lentur, tidak mudah retak, dan mudah dilepas kembali saat proses pelorotan.

BioPAS dikembangkan untuk menjawab kebutuhan itu. Satu formula dapat digunakan untuk berbagai metode pembatikan, mulai dari batik tulis, batik cap, hingga teknik batik lilin dingin.

Proses membatik dengan canting membutuhkan malam yang lentur, tajam membentuk motif, dan mudah dilepas saat pelorotan. BioPAS dikembangkan untuk menjawab kebutuhan teknis itu. Foto: Jeffry Surianto/ Pexels.

Fleksibilitas ini penting karena tiap sentra batik punya cara kerja yang berbeda. Perajin di Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Cirebon, atau daerah lain tidak selalu memakai teknik yang sama.

“Keunggulan utama BioPAS adalah kemampuannya diaplikasikan pada berbagai metode pembatikan dengan harga yang lebih kompetitif, sekaligus menawarkan karakteristik teknis yang dibutuhkan para perajin,” ujar Agus, mengutip, laman resmi BRIN.

Sebagai produk biowax, BioPAS juga menawarkan dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan malam berbasis parafin fosil. Limbah produksinya berpotensi lebih rendah karbon dan lebih aman bagi ekosistem.

Dari Lab ke Perajin

Perjalanan BioPAS tidak singkat. Riset awalnya sudah dimulai pada 2015–2016 melalui dukungan dana DIPA BPPT.

Setelah itu, proses berlanjut ke pengujian standar pada 2016, uji aplikasi pada 2017, lalu sosialisasi dan workshop pada 2019 serta 2021.

Tahapan panjang ini penting karena industri batik bukan ruang produksi yang seragam. Keberhasilan bahan baru tidak cukup dinilai dari laboratorium. Bahan itu juga harus cocok dengan tangan perajin.

Baca juga: Ganoderma Ancam Sawit, Teknologi Jadi Garis Pertahanan Baru

Faktor motif, teknik pewarnaan, kebiasaan membatik, hingga cuaca di daerah produksi dapat memengaruhi hasil akhir. Karena itu, pendampingan teknologi tetap dibutuhkan agar BioPAS benar-benar bisa digunakan secara konsisten.

Saat ini, BioPAS mulai direplikasi secara terbatas oleh sejumlah perajin yang tergabung dalam Koperasi Batik Indonesia di Pekalongan, Jawa Tengah. Permintaan uji coba aplikasi juga terus tumbuh, meski masih dalam skala terbatas.

Peluangnya Besar

Peluang BioPAS tidak kecil. Industri batik Indonesia melibatkan sekitar 55 ribu unit usaha. Mayoritas merupakan usaha mikro dan kecil.

Kebutuhan lilin untuk produksi batik nasional juga sangat besar. Agus menyebut kebutuhan malam batik diperkirakan mencapai sedikitnya 84 ribu ton per tahun.

Untuk batik tulis saja, kebutuhan lilin mencapai sekitar 165.476 kilogram per bulan. Sementara untuk batik cap, kebutuhannya mencapai lebih dari 13,6 juta kilogram per bulan.

Angka ini menunjukkan bahwa inovasi bahan baku dapat memberi dampak ekonomi besar. Jika digunakan lebih luas, BioPAS berpotensi membantu menghemat devisa, mengurangi ketergantungan impor, dan meningkatkan serapan produk turunan sawit di dalam negeri.

BioPAS juga memberi pesan lebih luas. Tradisi tidak selalu harus dipertahankan dengan cara lama. Batik tetap bisa menjaga identitasnya, sambil membuka ruang bagi sains, riset, dan bahan baku lokal.

Pada akhirnya, masa depan batik tidak hanya ditentukan oleh motif baru. Masa depan batik juga ditentukan oleh keberanian mengubah bahan, memperkuat rantai pasok, dan membuat industri kreatif lebih mandiri. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *