
INSECURE sering datang pelan-pelan.
Awalnya cuma merasa kurang cantik. Kurang pintar. Kurang menarik. Kurang berhasil. Lalu, tanpa sadar, perasaan itu berubah menjadi cara kita melihat diri sendiri.
Padahal, insecure bukan sekadar “drama perasaan”. Insecure adalah rasa ragu, cemas, dan kurang percaya diri yang bisa memengaruhi keputusan, relasi, pekerjaan, sampai cara kita menikmati hidup.
Masalahnya, rasa insecure tidak selalu muncul karena komentar orang lain. Kadang, justru kebiasaan kita sendiri yang membuat rasa itu makin kuat.
Beberapa kebiasaan terlihat kecil. Bahkan terasa normal. Namun, kalau dilakukan terus-menerus, efeknya bisa melemahkan harga diri.
Terlalu Keras Mengkritik Diri
Mengkritik diri sendiri sering dianggap tanda ingin berkembang.
Kita merasa harus keras pada diri sendiri agar tidak malas. Agar lebih disiplin. Agar tidak cepat puas.
Namun, kritik diri yang berlebihan bisa berubah menjadi serangan pribadi.
Saat gagal, kita tidak lagi berkata, “Aku perlu belajar.” Kita malah berkata, “Aku memang tidak mampu.” Saat hasil tidak sesuai harapan, kita tidak mengevaluasi proses. Kita langsung menyalahkan diri sendiri.
Baca juga: 5 Tanda Orang Bisa Dipercaya, Bukan Cuma Manis di Omongan
Psikolog dan penulis Nick Wignall menyebut kebiasaan mengkritik diri secara keras dapat memperkuat rasa tidak aman. Sebab, otak terbiasa menerima pesan negatif tentang diri sendiri.
Lama-lama, kita lebih mudah percaya pada kekurangan daripada potensi.
Belum Mencoba, Sudah Ragu
Ragu itu manusiawi. Setiap orang pernah mempertanyakan kemampuannya sendiri.
Namun, masalah muncul ketika rasa ragu datang terlalu cepat. Bahkan sebelum kita mencoba.
Belum daftar, sudah merasa tidak akan diterima. Belum bicara, sudah takut dinilai bodoh. Belum mulai, sudah yakin akan gagal.
Baca juga: 5 Bahasa Tubuh yang Bisa Menandakan Orang Tidak Nyaman dengan Kita
Kebiasaan ini membuat kita hidup dalam skenario buruk yang belum tentu terjadi.
Meragukan diri juga sering muncul setelah mengambil keputusan. Kita terus memutar pertanyaan yang sama. Apakah pilihan tadi benar? Apakah orang lain kecewa? Apakah seharusnya memilih yang lain?
Evaluasi memang penting. Namun, evaluasi yang tidak selesai bisa berubah menjadi overthinking.
Akhirnya, energi habis bukan untuk bergerak, tetapi untuk mencemaskan kemungkinan.
Terlalu Sering Minta Maaf
Minta maaf adalah sikap baik. Namun, terlalu sering minta maaf untuk hal yang bukan kesalahan kita bisa menjadi sinyal lain.
Misalnya, minta maaf karena bertanya. Minta maaf karena menyampaikan pendapat. Minta maaf karena hadir. Minta maaf karena butuh bantuan yang wajar.
Dikutip dari HaiBunda, psikolog Dr. Jenny Shields menjelaskan bahwa kebiasaan terlalu sering meminta maaf dapat membuat seseorang merasa seolah kehadirannya mengganggu orang lain.
Baca juga: Pura-pura Kaya di Media Sosial, Ini Tandanya
Pesannya pelan, tetapi dalam.
Kita jadi terbiasa menempatkan diri di posisi yang terlalu kecil. Seakan pendapat kita tidak penting. Seakan kebutuhan kita merepotkan. Seakan ruang kita harus selalu diperkecil agar orang lain nyaman.
Padahal, kita boleh hadir tanpa harus minta maaf setiap waktu.
Haus Kepastian dari Orang Lain
Sebagian orang merasa tenang hanya setelah mendapat validasi.
“Menurut kamu aku sudah benar belum?”
“Dia marah nggak, ya?”
“Aku kelihatan aneh nggak?”
“Kerjaanku cukup bagus nggak?”
Bertanya tentu boleh. Mencari masukan juga penting.
Namun, jika semua rasa aman selalu bergantung pada jawaban orang lain, percaya diri jadi rapuh. Kita seperti menyerahkan tombol harga diri kepada lingkungan.
Ketika dipuji, kita tenang. Ketika tidak direspons, kita panik. Ketika dikritik, kita merasa runtuh.
Validasi eksternal memang menyenangkan. Namun, rasa percaya diri yang sehat perlu bertumpu juga pada penilaian diri sendiri.
Kita perlu belajar berkata, “Aku sudah berusaha cukup baik,” tanpa selalu menunggu orang lain mengonfirmasi.
Menolak Pujian
Ada orang yang langsung salah tingkah saat dipuji.
“Ah, biasa saja.”
“Enggak kok, cuma beruntung.”
“Masih jelek banget sebenarnya.”
“Orang lain lebih bagus.”
Kalimat seperti ini terdengar rendah hati. Namun, jika terlalu sering dilakukan, kita justru melatih diri untuk menolak hal baik tentang diri sendiri.
Baca juga: Pura-pura Humble? Ini Tanda yang Sering Terlihat
Pujian tidak harus membuat kita sombong. Pujian bisa diterima dengan sederhana.
“Terima kasih.”
“Aku senang kamu melihatnya.”
“Aku memang berusaha untuk itu.”
Menerima pujian adalah bagian dari belajar menghargai proses. Bukan berarti merasa paling hebat. Bukan pula berarti berhenti berkembang.
Kadang, percaya diri tumbuh dari keberanian mengakui bahwa kita memang punya hal baik.
Percaya Diri Perlu Dilatih
Insecure tidak selalu hilang dalam semalam. Apalagi jika kebiasaan kecil itu sudah lama menjadi pola.
Namun, kita bisa mulai dari hal sederhana.
Berhenti menyerang diri sendiri saat gagal. Berani mencoba sebelum menyimpulkan tidak mampu. Mengurangi minta maaf untuk hal yang bukan kesalahan. Tidak menggantungkan seluruh nilai diri pada validasi orang lain. Lalu, menerima pujian tanpa buru-buru menolaknya.
Percaya diri bukan berarti tidak pernah ragu.
Percaya diri berarti tetap memberi ruang pada diri sendiri untuk belajar, tumbuh, dan hadir dengan lebih utuh. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.