Orang yang Sulit Bersyukur Biasanya Sering Mengucapkan Kalimat Ini

Tidak semua hubungan yang terlihat dekat benar-benar sehat. Kadang, rasa lelah muncul dari orang yang sulit menghargai orang lain. Foto: RDNE/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id – Tidak semua orang yang terlihat baik benar-benar tahu menghargai orang lain. Kadang, tanda paling sederhana justru terlihat dari hal kecil. Mereka sulit mengucapkan “terima kasih”.

Padahal, tiga kata sederhana seperti “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” sering dianggap fondasi paling dasar dalam hubungan sosial yang sehat.

Psikologi menyebut rasa syukur bukan sekadar sopan santun. Rasa syukur berkaitan erat dengan empati, kesehatan emosi, hingga kualitas hubungan manusia.

Karena itu, ketika seseorang terus merasa paling benar, paling berjasa, atau selalu menjadi korban, bisa jadi ada persoalan emosional yang lebih dalam di baliknya.

Menariknya, pola itu sering muncul lewat kalimat-kalimat tertentu yang terdengar biasa, tetapi sebenarnya menyimpan tanda hubungan yang tidak sehat.

Selalu Jadi Korban

Salah satu kalimat yang sering muncul adalah,

“Mengapa kamu selalu membuatku merasa begini?”

Kalimat ini terdengar seperti keluhan biasa. Tetapi dalam banyak kasus, itu menjadi cara untuk menghindari tanggung jawab.

Orang yang sulit bersyukur cenderung lebih mudah menyalahkan orang lain dibanding mengakui kesalahannya sendiri.

Baca juga: Orang yang Terlihat Baik Kadang Justru Paling Melelahkan

Mereka berharap orang lain terus memahami, membantu, dan mendukung mereka. Namun di saat yang sama, mereka jarang menghargai pengorbanan orang lain.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS One menyebut perilaku seperti ini sering dipakai untuk “menyelamatkan muka” ketika seseorang menghadapi konsekuensi dari tindakannya sendiri.

Bukannya mengakui kesalahan, mereka mengalihkan fokus agar terlihat sebagai pihak yang tersakiti.

Hubungan Jadi Transaksional

Kalimat lain yang sering muncul adalah,

“Tidak ada seorang pun yang berterima kasih saat aku menolong mereka.”

Sekilas terdengar menyedihkan. Tetapi dalam banyak hubungan, kalimat ini menunjukkan bahwa bantuan diberikan dengan harapan imbalan emosional.

Hubungan akhirnya terasa seperti transaksi.

Ada rasa ingin dihargai secara berlebihan. Ada kebutuhan untuk terus dipuji setelah membantu orang lain.

Penelitian yang dipublikasikan PubMed Central pada 2023 menemukan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh rasa syukur cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih sehat saat dewasa.

Baca juga: INFP, Si Paling Tenang yang Sering Jadi Tempat Bersandar

Sebaliknya, jika sejak kecil rasa syukur selalu “ditagih”, seseorang bisa tumbuh dengan pola pikir bahwa cinta dan perhatian harus selalu dibalas secara setara.

Akibatnya, hubungan menjadi melelahkan.

Bukan lagi soal ketulusan, tetapi soal hitung-hitungan emosional.

Suka Memproyeksikan Kesalahan

Kalimat seperti,

“Aku lupa kamu hanya datang saat butuh sesuatu.”

juga sering menjadi tanda lain.

Dalam psikologi, ini dikenal sebagai proyeksi. Seseorang memindahkan rasa bersalahnya sendiri kepada orang lain.

Orang yang sulit bersyukur sering kali lebih mudah menyalahkan orang lain daripada mengakui kesalahannya sendiri. Foto: Werner Pfennig/ Pexels.

Ironisnya, orang yang gemar menuduh dimanfaatkan justru sering menjadi pihak yang memanfaatkan hubungan.

Mereka sulit menerima rasa malu atau rasa bersalah. Karena itu, emosi negatif tersebut dilempar ke orang lain.

Studi dalam American Psychologist menunjukkan orang yang rutin mempraktikkan rasa syukur umumnya memiliki emosi negatif yang lebih rendah.

Sebaliknya, orang yang jarang bersyukur lebih mudah dipenuhi kecemasan, rasa iri, dan perasaan tidak pernah puas.

Sulit Merasa Bahagia

Orang yang tidak terbiasa bersyukur juga sering mengucapkan,

“Mengapa aku selalu merasa tidak bahagia?”

Ini bukan sekadar soal suasana hati.

Harvard Health Publishing menemukan bahwa rasa syukur berkaitan langsung dengan tingkat kebahagiaan seseorang.

Baca juga: Bukan Sekadar Insomnia, Banyak Orang Diam-diam Cemas di Malam Hari

Orang yang terbiasa menghargai hal kecil biasanya memiliki hubungan sosial lebih stabil dan tekanan emosional lebih rendah.

Sebaliknya, orang yang terus merasa kurang cenderung hidup dalam ekspektasi yang tidak realistis.

Mereka sulit menikmati apa yang sudah dimiliki karena fokusnya selalu pada apa yang belum didapat.

Merasa Semua Orang Berutang

Kalimat paling melelahkan biasanya muncul dalam bentuk,

“Kamu berutang padaku.”

Tidak selalu diucapkan secara langsung. Kadang muncul lewat sikap.

Mereka merasa semua bantuan harus dibayar kembali. Semua perhatian harus dibalas.

Penelitian dalam Journal of Personality and Social Psychology menyebut orang yang tidak tahu bersyukur cenderung terlalu fokus pada apa yang hilang dalam hidup mereka.

Akibatnya, mereka sulit membangun hubungan yang sehat.

Empati menurun. Kepercayaan melemah. Hubungan perlahan berubah menjadi ruang tuntutan.

Baca juga: Tak Semua Orang Kuat Selalu Terlihat Tenang

Padahal, rasa syukur sebenarnya bukan soal formalitas.

Ia adalah kemampuan melihat bahwa hidup tidak selalu berjalan sendirian. Ada bantuan, perhatian, dan pengorbanan orang lain di dalamnya.

Dan sering kali, hubungan yang sehat justru dimulai dari satu kalimat paling sederhana,

“Terima kasih.”

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *