BRIN dan IPB Bikin Tes Cepat Susu Palsu

Uji sampel susu di laboratorium menjadi bagian penting dalam pengawasan mutu pangan. Foto: Ilustrasi/ Manitobacooperator.

JAKARTA, mulamula.id Susu sering dianggap sebagai minuman sehat. Tapi di balik warna putih dan rasa lembutnya, ada risiko yang tidak selalu terlihat.

Susu bisa dipalsukan.

Bahan seperti melamin dan urea pernah disalahgunakan untuk membuat susu terlihat lebih “berprotein”. Padahal, kualitas itu hanya tampak di angka. Bukan pada keamanan produk.

Masalah inilah yang sedang dijawab Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN bersama Institut Pertanian Bogor. Keduanya mengembangkan metode deteksi cepat pemalsuan susu dengan gabungan teknik elektrokimia dan kemometrik.

Tujuannya sederhana, tetapi penting, yakni membuat pemalsuan susu lebih cepat terbaca sebelum produk sampai lebih jauh ke konsumen.

Baca juga: Sensor Nano Ini Bisa Bongkar Pangan Palsu dan Polusi Lebih Cepat

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Budi Riza Putra, menjelaskan bahwa susu merupakan produk pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat. Karena itu, keamanan susu tidak bisa dianggap urusan kecil.

Budi menyebut melamin dan urea kerap digunakan untuk menaikkan kadar nitrogen. Efeknya, susu tampak memiliki kualitas protein lebih baik daripada kondisi sebenarnya.

“Pengembangan metode deteksi yang cepat dan akurat menjadi langkah penting untuk memastikan keamanan produk susu yang beredar di masyarakat,” kata Budi, dikutip dari laman resmi BRIN.

Bahaya yang Tak Terlihat

Melamin bukan bahan biasa dalam isu keamanan pangan. Senyawa ini beracun. Dampaknya bisa berat, terutama bagi bayi dan anak-anak.

Paparan melamin dapat memicu batu ginjal, gagal ginjal akut, bahkan kematian dalam kasus serius. Risiko itu membuat deteksi sejak awal menjadi sangat penting.

Urea juga tidak bisa dianggap aman jika masuk ke tubuh dalam jumlah berlebihan. Konsumsi urea dapat mengganggu metabolisme, memicu masalah saluran cerna, dan menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang.

Baca juga: Ganoderma Ancam Sawit, Teknologi Jadi Garis Pertahanan Baru

Masalahnya, konsumen biasa sulit mengenali susu yang telah dicampur bahan pencemar. Dari tampilan luar, susu palsu bisa tampak normal. Warnanya tetap putih. Teksturnya bisa saja terlihat wajar.

Di titik ini, teknologi menjadi penting. Bukan hanya untuk laboratorium besar, tetapi juga untuk pengawasan lapangan.

Perangkat elektrokimia portabel digunakan untuk menguji sampel susu dalam riset deteksi cepat susu palsu. Foto: Dok. BRIN.
Membaca Sinyal Susu

Metode yang dikembangkan BRIN dan IPB memakai teknik elektrokimia. Teknik ini membaca sinyal khas dari sampel susu.

Dalam susu, kandungan asam amino dapat mengalami proses oksidasi dan reduksi. Proses itu menghasilkan pola pengukuran elektrokimia tertentu.

Ketika susu dicampur melamin atau urea, pola sinyalnya berubah. Perubahan inilah yang kemudian menjadi petunjuk adanya pemalsuan.

Namun, pola itu tidak selalu bisa dibedakan dengan mata biasa. Data sinyal elektrokimia perlu dibaca lebih dalam. Di sinilah pendekatan kemometrik masuk.

Baca juga: Rp2 Triliun untuk 1.600 Riset, BRIN Dorong Dampak Nyata

Kemometrik adalah penggunaan metode statistik untuk membaca data kimia yang kompleks. Dengan cara ini, pola yang terlihat mirip bisa dipetakan, dibandingkan, lalu dianalisis.

Budi menggunakan beberapa metode analisis. Di antaranya Principal Component Analysis atau PCA, Partial Least Squares Regression atau PLSR, dan Hierarchical Cluster Analysis atau HCA.

PCA dipakai untuk melihat perbedaan pola antara susu murni dan susu yang sudah dicampur bahan pencemar. PLSR digunakan untuk membangun model prediksi kadar pencemar. Sementara HCA membantu mengelompokkan sampel berdasarkan kemiripan respons elektrokimianya.

Dengan bahasa sederhana, teknologi ini bekerja seperti “pembaca jejak”. Susu murni punya jejak. Susu yang dicampur melamin atau urea punya jejak berbeda.

Bisa Dipakai di Lapangan

Bagian menarik dari riset ini bukan hanya akurasinya. Tapi juga peluang penggunaannya di luar laboratorium besar.

Pengukuran dilakukan dengan potentiostat portabel yang terhubung dengan elektroda portabel. Artinya, sistem ini berpotensi dibuat lebih praktis.

Ke depan, alat seperti ini bisa dipakai langsung di sentra pengumpulan susu, koperasi peternak, atau titik pemeriksaan awal. Pemeriksaan tidak harus selalu menunggu proses panjang di laboratorium.

Baca juga: Ikan Tak Lagi Sekadar Dipelihara, Kini Dipantau AI dari Dalam Kolam

Bagi peternak, teknologi ini bisa membantu menjaga kualitas rantai pasok. Bagi koperasi, alat deteksi cepat bisa menjadi sistem skrining awal. Bagi konsumen, manfaatnya lebih jelas: produk susu yang beredar bisa diawasi lebih ketat.

Riset BRIN dan IPB ini juga menunjukkan satu hal penting. Inovasi pangan tidak selalu harus terlihat besar di mata publik. Kadang, dampaknya justru hadir dari alat kecil yang bekerja cepat, akurat, dan dekat dengan kebutuhan lapangan.

Sebab dalam urusan pangan, yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas produk. Tapi juga kesehatan orang banyak. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *