
JAKARTA, mulamula.id – Indonesia punya pasar besar. Ekonominya juga masih tumbuh. Tapi dalam urusan daya saing global, posisi Indonesia justru turun cukup dalam.
Dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026, Indonesia berada di peringkat ke-48 dari 70 ekonomi dunia. Posisi ini turun dari peringkat ke-40 pada 2025.
Penurunan itu makin terasa jika dibandingkan dengan capaian 2024. Saat itu, Indonesia sempat berada di posisi ke-27. Artinya, dalam dua tahun, Indonesia kehilangan 21 peringkat.
Angka ini menjadi alarm penting. Sebab, masalah Indonesia bukan sekadar soal besar atau kecilnya ekonomi. Tantangannya ada pada kualitas daya saing.
Ekonomi Tumbuh, Daya Saing Turun
Secara makro, Indonesia sebenarnya tidak sedang ambruk.
Pertumbuhan ekonomi riil masih berada di kisaran 5,1%. Inflasi tercatat 1,91%. Tingkat pengangguran berada di angka 4,85%. Ukuran ekonomi Indonesia juga mencapai sekitar US$1,45 triliun.
Namun, laporan IMD menunjukkan satu hal penting. Pertumbuhan ekonomi belum otomatis membuat negara lebih kompetitif.
Pasar yang besar belum cukup. Jumlah penduduk yang banyak juga belum cukup. Yang dibutuhkan adalah produktivitas, efisiensi bisnis, kualitas pendidikan, inovasi, pembiayaan, dan tata kelola yang lebih kuat.
Baca juga: Ekonomi Indonesia Melambat, Bank Dunia Sorot Reformasi
Di sinilah masalah Indonesia terlihat.
Dalam empat pilar utama IMD, kinerja ekonomi Indonesia masih bertahan di peringkat 24. Namun, efisiensi pemerintah turun dari 34 ke 38. Infrastruktur turun tipis dari 57 ke 58.
Yang paling mencolok adalah efisiensi bisnis. Posisinya merosot dari peringkat 26 pada 2025 menjadi 50 pada 2026. Jika dibandingkan dengan 2024, penurunannya jauh lebih tajam.
Ini berarti dunia usaha menghadapi tekanan serius. Bukan hanya dari pasar global, tetapi juga dari dalam negeri. Mulai dari produktivitas, manajemen, akses pembiayaan, hingga kemampuan perusahaan menciptakan nilai tambah.
Kalah dari Tetangga
Posisi Indonesia juga terlihat berat jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lain yang masuk pemeringkatan IMD 2026.
Singapura berada di posisi pertama dunia. Malaysia berada di peringkat 15. Thailand di posisi 26. Vietnam di posisi 27. Filipina di posisi 47.
Indonesia berada tepat di bawah Filipina, yakni peringkat 48.
Di kawasan Asia-Pasifik, Indonesia menempati posisi ke-14 dari 15 ekonomi yang dicakup IMD. Indonesia hanya berada di atas Mongolia.
Data ini membuat isu daya saing tidak bisa dianggap teknis semata. Ini menyangkut kemampuan Indonesia menarik investasi, menjaga industri, menciptakan pekerjaan layak, dan bersaing dalam ekonomi global yang makin berbasis teknologi.
Titik Lemahnya Ada di SDM
IMD mencatat sejumlah titik lemah struktural Indonesia.
Pendidikan berada di peringkat 63. Infrastruktur ilmiah di peringkat 65. Produktivitas dan efisiensi berada di posisi 54. Keuangan di posisi 55. Praktik manajemen berada di peringkat 53.
Artinya, pekerjaan rumah Indonesia tidak hanya soal membangun jalan, pelabuhan, atau kawasan industri.
Baca juga: Kerja Ada, Hidup Layak Makin Jauh
Indonesia juga perlu memperkuat kualitas manusia. Mulai dari pendidikan, riset, keterampilan kerja, inovasi, hingga kemampuan manajemen perusahaan.
Tanpa itu, bonus demografi bisa berubah menjadi beban. Jumlah tenaga kerja yang besar tidak otomatis menjadi kekuatan jika produktivitasnya tertinggal.
Pemerintah akan Teliti Bottleneck
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan menelaah lebih jauh penyebab turunnya posisi Indonesia.
“Ya nanti kita teliti lagi masalahnya di mana. Kan kita ada persiapan untuk tim di bottlenecking. Jadi kita akan lihat aja dari sana,” ujar Airlangga di Kementerian Koordinator Perekonomian, Rabu, 24 Juni 2026.
Airlangga juga menyoroti sektor energi sebagai salah satu fondasi penting daya saing nasional. Menurutnya, iklim usaha akan dinilai baik jika pasokan energi stabil dan mampu menopang aktivitas ekonomi.
Baca juga: Subsidi BBM Salah Sasaran, APBN Ikut Tertekan
“Nah ya tentu negara dianggap iklimnya baik kalau energi sebagai infrastruktur utama untuk apapun. Apakah itu untuk manufaktur, apakah itu untuk sektor transportasi, jasa,” kata Airlangga.
Ia menyebut Indonesia tetap memiliki daya tarik karena memiliki potensi energi terbarukan. Namun, potensi itu perlu diterjemahkan menjadi pasokan listrik yang andal, bersih, dan kompetitif.
Bukan Sekadar Peringkat
Penurunan peringkat IMD bukan hanya soal posisi di tabel global. Isu ini berkaitan langsung dengan masa depan ekonomi Indonesia.
Jika produktivitas rendah, biaya usaha bisa tetap tinggi. Jika pendidikan tertinggal, industri sulit naik kelas. Jika riset lemah, inovasi sulit tumbuh. Jika pembiayaan terbatas, bisnis baru sulit berkembang.
Di tengah persaingan global, negara tidak hanya dinilai dari seberapa besar ekonominya. Negara juga dinilai dari seberapa cepat pemerintah bergerak, seberapa efisien dunia usaha bekerja, dan seberapa siap SDM menghadapi perubahan.
Baca juga: Sudah 240 BUMN Ditutup, Ratusan Lain Menyusul
Indonesia masih punya modal besar. Pasarnya luas. Populasinya besar. Ekonominya tetap tumbuh.
Namun, laporan IMD memberi pesan yang cukup jelas. Modal besar saja tidak cukup.
Tanpa produktivitas, inovasi, SDM berkualitas, energi andal, dan tata kelola yang kredibel, Indonesia bisa tetap besar, tetapi tidak cukup kompetitif. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.