
PENDIDIKAN tinggi gratis terdengar seperti kabar terbaik bagi anak muda Indonesia. Uang kuliah tak lagi menghantui keluarga. Mahasiswa bisa belajar tanpa terus menghitung kemampuan membayar UKT.
Namun, satu pertanyaan besar belum terjawab. Siapa yang menanggung seluruh biayanya?
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pendidikan negeri dari sekolah dasar hingga universitas harus gratis. Pernyataan itu disampaikan dalam peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.
“Saya akan segera mengadakan ratas atau pokoknya biaya pendidikan negeri harus gratis,” kata Prabowo. Cakupannya, menurut Presiden, meliputi SD, SMP, SMA, hingga universitas negeri.
Pernyataan tersebut bukan keputusan teknis yang langsung menghapus UKT. Pemerintah masih harus menyusun skema, menghitung kebutuhan anggaran, menentukan penerima, dan memastikan kampus tidak kehilangan kemampuan menjalankan pendidikan.
Baca juga: Mahasiswa Kesehatan yang DO Disiapkan Jalan Kembali
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan pemerintah sebenarnya telah diminta mengkaji kemungkinan menggratiskan kuliah di perguruan tinggi negeri. Salah satu bagian terpenting dalam kajian itu adalah skema pembiayaan.
Hasilnya kelak akan dibawa kepada Presiden dan dibahas bersama kementerian serta lembaga terkait. Artinya, gagasan kuliah gratis mulai bergerak, tetapi bentuk kebijakannya belum selesai.
Gratis untuk Siapa?
Kata “gratis” membutuhkan batas yang jelas.
Apakah seluruh mahasiswa PTN tidak lagi membayar UKT? Apakah kebijakan hanya diberikan kepada mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah? Bagaimana dengan uang pangkal pada jalur mandiri, kelas internasional, praktikum, dan biaya hidup?
Saat ini, bantuan pemerintah masih menggunakan pendekatan terarah. Brian menyebut sekitar 28,2 persen mahasiswa baru yang diterima di PTN pada 2025 memperoleh dukungan melalui KIP Kuliah dan berbagai skema pembiayaan lain.
Baca juga: Anggaran Pendidikan Besar, Sampainya ke Mana?
Angka itu menunjukkan negara telah hadir. Namun, jaraknya masih lebar dari gagasan membebaskan biaya bagi seluruh mahasiswa PTN.
Jika UKT dihapus, negara harus mengganti pendapatan yang selama ini digunakan kampus untuk membayar dosen, mengoperasikan laboratorium, merawat fasilitas, menyediakan teknologi, dan menjaga mutu pembelajaran.
Tanpa penggantian yang memadai, kuliah memang dapat menjadi gratis, tetapi kualitasnya berisiko ikut tertekan.
Uang Korupsi Bukan Anggaran Tetap
Prabowo menyebut uang negara yang dikorupsi, dicuri, atau diselewengkan harus dikembalikan untuk membiayai kepentingan rakyat.
Pesannya kuat. Korupsi memang merampas ruang fiskal yang seharusnya dapat digunakan untuk pendidikan. Namun, hasil pemulihan aset tidak selalu tetap, teratur, dan mudah diprediksi setiap tahun.
Sementara itu, kampus membutuhkan pembiayaan berkelanjutan. Dosen harus dibayar setiap bulan. Laboratorium harus tetap berjalan. Beasiswa dan kegiatan akademik tidak dapat menunggu keberhasilan penyitaan aset.
Karena itu, pendidikan gratis membutuhkan sumber anggaran yang permanen, transparan, dan tercatat dalam APBN, bukan hanya mengandalkan penerimaan yang jumlah serta waktunya berubah.
Gratis Belum Tentu Membuka Akses
Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian mendukung rencana tersebut, tetapi mengingatkan agar mutu pendidikan tetap dijaga. Peringatan ini penting.
Menghapus UKT tidak otomatis membuat semua anak muda bisa masuk PTN. Jumlah kursi tetap terbatas, persaingan masuk tetap ketat, dan biaya hidup di kota pendidikan tetap harus ditanggung mahasiswa.
Kebijakan ini karena itu perlu bergerak lebih jauh. Memperluas daya tampung, menjaga kualitas, membantu biaya hidup, serta memastikan kampus di luar kota besar memperoleh dukungan yang setara.
Baca juga: Mereka Punya Mimpi, tetapi Belum Punya Sekolah
Kuliah negeri gratis adalah gagasan besar. Namun, ukuran keseriusannya bukan terletak pada kerasnya pernyataan, melainkan pada desain anggaran, kejelasan penerima, dan tanggal dimulainya.
Bagi mahasiswa dan orang tua, satu kata “gratis” dapat mengubah masa depan. Karena itu, kata tersebut juga harus dijaga agar tidak berhenti sebagai janji yang terdengar indah. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.