Pantura Butuh Tembok Laut, tapi Alam Jangan Ditinggal

Kawasan pesisir dengan tambak dan mangrove memperlihatkan kompleksitas perlindungan Pantura. BRIN mendorong konsep hybrid eco-engineering agar tanggul, breakwater, dan alam bekerja bersama. Foto: Tom Fisk/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id – Pembangunan pelindung pesisir di Pantai Utara Jawa masuk babak penting. Isunya bukan lagi sekadar membangun tanggul besar. Tantangannya lebih rumit, yakni bagaimana menahan gelombang, menekan abrasi, menghadapi penurunan tanah, sekaligus menjaga ruang hidup mangrove.

Di tengah rencana groundbreaking proyek Giant Sea Wall Teluk Jakarta yang diperkirakan berjalan pada Oktober 2026, BRIN menawarkan pendekatan berbeda. Namanya Hybrid Eco-Engineering.

Hybrid Eco-Engineering adalah konsep pelindung pesisir yang menggabungkan struktur keras, seperti breakwater atau tanggul, dengan solusi berbasis alam seperti mangrove. Tujuannya bukan hanya menahan laut, tetapi membuat ekosistem pesisir ikut bekerja.

Pendekatan ini penting karena Pantura tidak menghadapi satu masalah saja. Ada abrasi. Ada banjir rob. Ada kerusakan mangrove. Ada tekanan tambak. Ada pula penurunan tanah yang membuat risiko pesisir makin besar.

Beton dan Mangrove

BRIN menilai perlindungan pesisir tidak cukup bertumpu pada struktur beton. Struktur keras memang dibutuhkan. Namun, tanpa ekosistem alami, biaya perawatan bisa membesar dan daya tahan kawasan bisa melemah.

Mengutip laman resmi BRIN, konsep ini akan diuji melalui rencana pembangunan demonstration plot atau demplot breakwater di Pantai Sederhana, Bekasi. Lokasi tersebut disesuaikan dengan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut atau KKPRL yang sudah tersedia.

Baca juga: Pantura Jawa Turun Perlahan, Mangrove Ikut Hilang dan Rob Kian Sulit Dikendalikan

BRIN mengusulkan breakwater sepanjang 100 meter. Struktur ini akan menggunakan lapis lindung BRINlock. Setelah itu, kawasan akan diintegrasikan dengan penanaman mangrove.

Model ini menarik karena tidak menempatkan mangrove sebagai dekorasi hijau. Mangrove diposisikan sebagai bagian dari sistem perlindungan pesisir.

Data Jadi Kunci

Sebelum konstruksi dilakukan, data teknis tetap harus dikejar. BRIN masih membutuhkan pengukuran batimetri dan data tanah. Dua data ini penting untuk memahami bentuk dasar laut, karakter sedimen, serta daya dukung lokasi.

Tanpa data yang kuat, proyek pelindung pesisir bisa salah desain. Struktur bisa terlalu mahal. Bisa juga tidak sesuai dengan dinamika gelombang dan sedimentasi lokal.

Baca juga: Pantura Jawa Turun Pelan-pelan, Laut Naik Diam-diam

Di sisi lain, isu ekologis tidak kalah penting. Kawasan seperti Muara Gembong menghadapi tekanan besar dari pembukaan lahan tambak. Kerusakan mangrove di lapangan tidak selalu terjadi karena gelombang laut. Aktivitas manusia juga ikut mempercepat kerusakan.

Karena itu, kajian zonasi menjadi krusial. Jenis mangrove harus dipilih dengan tepat. Jarak antara hutan mangrove dan struktur tanggul juga perlu dihitung agar keduanya saling mendukung, bukan saling melemahkan.

Belajar dari Pantura

BRIN juga melihat pengalaman Losarang, Indramayu, sebagai pelajaran penting. Di wilayah itu, pembangunan tanggul ikut memicu sedimentasi. Arus menjadi lebih lambat. Kondisi tersebut membuka peluang tumbuhnya mangrove baru secara alami.

Artinya, struktur keras bisa membantu pemulihan ekologi jika dirancang dengan benar.

Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa atau BOPPJ menyatakan siap mengintegrasikan rekomendasi riset BRIN ke dalam perencanaan wilayah Teluk Jakarta. Data mangrove dan tambak akan dipetakan, lalu dimasukkan ke dalam layout dan cross section perencanaan.

Baca juga: Pantura Terancam, Ekonomi Bisa Kolaps

Tantangan Pantura juga tidak berhenti di Jakarta dan Bekasi. Segmen Kendal, Semarang, hingga Rembang menghadapi persoalan penurunan tanah yang masih terjadi, meski penggunaan air tanah telah dibatasi.

Karena itu, perlindungan pesisir Pantura membutuhkan lebih dari proyek fisik. Indonesia perlu membaca pesisir sebagai ruang hidup, ruang ekonomi, dan ruang ekologi sekaligus.

Tembok laut boleh dibangun. Namun, masa depan Pantura tidak bisa hanya disandarkan pada beton. Alam harus ikut menjadi bagian dari desain. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *