Yang Sulit dari Berkorban

Tidak semua pengorbanan terlihat oleh orang lain. Foto: Ilustrasi/ Airlangga Jati/ Pexels.

ADA hal-hal yang semakin sulit dilakukan seiring bertambahnya usia.

Bukan bekerja keras.
Bukan bertahan hidup.
Tapi melepaskan.

Kita hidup di zaman yang mengajarkan cara mendapatkan banyak hal.
Cara mengejar.
Cara memiliki.

Namun, tidak banyak yang benar-benar mengajarkan bagaimana merelakan sesuatu dengan tenang.

Tentang Memiliki

Sejak kecil, kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup adalah tentang mengumpulkan.

Nilai yang baik.
Pekerjaan yang mapan.
Rumah yang nyaman.
Pengakuan dari orang lain.

Pelan-pelan, kita terbiasa mengukur hidup dari apa yang berhasil kita pegang erat.

Baca juga: Anak-anak yang Terlalu Cepat Mengenal Taruhan

Dan mungkin tanpa sadar, kita menjadi takut kehilangan.

Takut jika sesuatu pergi.
Takut jika hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Takut jika apa yang sudah diperjuangkan ternyata harus dilepaskan.

Makna Berkorban

Idul Adha selalu membawa cerita tentang pengorbanan.

Namun mungkin, yang paling sulit dari berkorban bukan tentang memberi sesuatu kepada orang lain.

Melainkan tentang keberanian untuk melepaskan sebagian dari diri kita sendiri.

Ego yang terlalu besar.
Keinginan untuk selalu menang.
Hasrat untuk terus memiliki semuanya.

Karena tidak semua pengorbanan terlihat.

Baca juga: Tidak Semua Rumah Adalah Rumah

Ada yang terjadi diam-diam di dalam hati seseorang.
Tanpa tepuk tangan.
Tanpa pujian.

Hanya ada proses panjang untuk belajar ikhlas terhadap sesuatu yang tidak lagi bisa dipertahankan.

Yang Semakin Langka

Di zaman yang bergerak cepat, kemampuan untuk berkorban terasa semakin langka.

Kita hidup di tengah budaya yang terus mendorong untuk menjadi lebih.
Lebih sukses.
Lebih kaya.
Lebih terlihat.

Semua orang ingin mendapatkan tempat paling depan.
Namun sedikit yang benar-benar siap mengurangi dirinya demi orang lain.

Padahal, mungkin justru di situlah nilai pengorbanan menjadi penting.

Baca juga: Tidak Ada yang Terjadi Sendiri

Bukan karena dunia membutuhkan lebih banyak orang sempurna.
Tetapi karena dunia mulai kekurangan orang yang bersedia mendahulukan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Belajar Melepaskan

Mungkin, hidup memang tidak selalu tentang seberapa banyak yang bisa kita miliki.

Kadang, ia justru bergerak dari hal-hal yang mampu kita relakan.

Waktu.
Tenaga.
Keinginan.
Bahkan sebagian kenyamanan kita sendiri.

Dan semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa tidak semua kehilangan berarti kegagalan.

Ada hal-hal yang memang harus dilepas agar hidup bisa bergerak lebih tenang.

Mungkin, yang paling sulit dari berkorban memang bukan soal memberi.

Tetapi tentang merelakan sesuatu yang sebenarnya masih ingin kita pertahankan.

Baca juga: Aksara | Kembali ke Fitri

Dan di tengah dunia yang terus mengajarkan cara memiliki,
mungkin kita juga perlu belajar kembali satu hal yang mulai jarang dilakukan:

melepaskan dengan ikhlas.

Selamat Hari Raya Kurban, Idul Adha.

Salam literasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *